Jumat, 01 November 2013
Soneratia alba: Mangrove di Desa Poka
Soneratia alba: Mangrove di Desa Poka: A. Jenis Mangrove yang ada di Desa Poka, Ambon Diskripsi Jenis Mangrove yang ada di Desa Poka Hutan mangrove adalah hu...
Selasa, 29 Januari 2013
Sumberdaya Rajungan di Indonesia
SUMBERDAYA
HAYATI LAUT
SUMBERDAYA
RAJUNGAN DI INDONESIA ( JENIS, PENYEBARAN, HABITAT, POTENSI, MANFAAT, TEKNOLOGI
PEMANFAATAN )
OLEH
NATALIA HALAPIRY
NIM
2011-63-053
PRODI MSP
FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS
PATTIMURA
AMBON
2012
- JENIS - JENIS RAJUNGAN
|
Jenis
|
Warna
dan pola polygonal
|
Duri
pada bagian dahi karpaks
|
Duri
pada ruas propondus dan cheliped carpus
|
|
Portunus pelagicus
|
Warna
dasar biru dengan bercak-bercak putih terang, pola polygonal terlihat jelas
pada hamper semua bagian tubuh
|
Duri
agak lebar, tinggi, dan tajam, berbentuk segitiga, empat duri tengah
berukuran panjang hampir sama sehingga terlihat rata
|
Tiga
duri tajam pada propondus, dan dua
duri tajam pada carpus
|
|
Podophthalmus vigil
|
Warna
dasar hijau agak suram, pada capinya berwarna ungu kemerah-merahan dan tidak
terdapat pola polygonal di bagian karapaksnya
|
Tidak
ada duri pada bagian dahi karapaksnya, hanya mempunyai dua tangkai mata yang
relative panjang. Terdapat sebuah duri di ujung kiri-kanan punggungnya
|
Tiga
duri tajam pada propondus, dan dua
duri tajam pada carpus
|
|
Charybdis natator
|
Warna
hijau agak kotor, punggungnya bergaris-garis putus melintang, dan kaki capit
terdapat pola polygonal ditumbuhi duri dan bintil
|
Duri
lebar dan agak tumpul, berbentuk segitiga, empat duri tengah berukuran
oanjang hampir sama sehingga terlihat rata
|
Tiga
duri tajam pada propondus, dan dua
duri tajam pada carpus
|
|
Portunus sanguinolentus
|
Warna
karapaks agak hijau kotor dan di bagian punggung belakang berjejer melintang
tiga bulatan merah coklat
|
Duri
lebar, dan agak tumpul, berbentuk segitiga, tiga duri tengah berukuran
panjang hamper sama sehingga terlihat rata
|
Dua
duri agak tumpul pada propondus,
dan dua duri tumpul pada carpus
|
Berdasarkan
sistematika krustacea, dalam kelompok kepiting terdapat satu suku yang disebut
Portunidae, dalam suku inilah Rajungan dikelompokan. Dalam taksonomi, Rajungan dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :
1. Filum : Crustacea
Ordo : Decapoda
Family : Portunidae
Genus : Portunus
Spesies : Portunus
pelagicus, P. sanguinolentus
Genus : Charybdis
Spesies : Charybdis
feriatus, C. natator, C. lucifera
Genus : Thalamita
Spesies : Thalamita
crenata, T. danae
Genus : Podophthalmus
Spesies : Podophthalmus
vigil
Sementara
informasi lain menyebutkan bahwa rajungan terdiri atas 11 jenis yaitu Portununs pelagicus Linn, Portununs sanguinolentus Herbst, Portunus hastatoides, Thalamita crenata Latr, Thalamita danae Stimpson, Charybdis cruciata, charybdis natator Herbst, podopthalmus
vigil.
Secara
umum, morfologis dari rajungan berbeda dengan kepiting bakau. Rajungan umumnya
memiliki bentuk tubuh ramping dengan capit yang lebih panjang dan memiliki
warna yang sangat menarik pada karapaksnya. Duri ahkir pada kedua sisi karapaks
relative lebih panjang dan runcing. Dengan melihat warna dari karapaks dan
jumlah duri pada karapaksnya, maka mudah dibedakan dengan kepiting bakau.
Ciri
khas utama untuk dapat membedakan jenis kepiting berdasarkan bentuk abdomennya.
Rajungan jantan dapat dibedakan dengan bentuk abdomen umumnya sempit dan
meruncing kedepan, sedangkan rajungan betina bentuk abdomen melebar dan setengah
lonjong. Selain itu, umumnya ukuran karapaksnya lebih besar kearah lebarnya
dari pada panjangnya dengan permukaan yang tidak selalu jelas pembagian
daerahnya. Pada sebelah kiri dan kanan karapaksnya, terdapat duri besar. Jumlah
duri-duri sisi belakang matanya sebanyak Sembilan, enam, lima , atau empat buah
duri besar. Rajungan memiliki lima pasang kaki jalan, yang pertama ukurannya
cukup besar dan disebut capit, yang berfungsi untuk memegang, dan sepasang kaki
terahkir mengalami modifikasi menjadi alat renang. Abdomen berbentuk segitiga
tereduksi dan melipat ke sisi ventral karapaks. Bobot rajungan dapat mancapai
400 g, dengan ukuran karapaks sekitar 300 mm ( 12 inci ). Ukuran rajungan
antara jantan dan betina berbeda pada umur yang sama. Jantan lebih besar dan
berwarna lebih cerah serta berpigmen biru terang. Sedangkan betinanya, berwarna
sedikit lebih coklat.
2. HABITAT DAN PENYEBARAN
- Habitat
Rajungan
dapat hidup di perairan pantai dengan dasar pasir berlumpur, serta di laut
terbuka. Rajungan sering dijumpai di dasar laut sampai pada kedalaman lebih
dari 70 m, namun kadang terlihat berenang dekat permukaan air laut. Rajungan
banyak menghabiskan hidupnya dengan membenamkan tubuhnya di permukaan pasir dan
hanya menonjolkan matanya untuk menunggu ikan dan jenis inverterbata lainnya
yang mencoba mendekati untuk diserang atau dimangsa. Rajungan memiliki tempat
hidup yang berbeda dengan jenis kepiting pada umumnya seperti Kepiting Bakau ( Seylla serrata), tetapi memiliki tingkah
laku yang hampir sama dengan kepiting. Coleman (1991) dalam (sara, dkk, 2006)
melaporkan bahwa rajungan merupakan jenis kepiting perenang yang juga mendiami
dasar lumpur berpasir sebagai tempat berlindung.
Selain
itu, habitat rajungan adalah pantai bersubtrat pasir , pasir berlumpur dan di
pulau berkarang. Rajungan juga dijumpai berenang dari permukaan laut (sekitar 1
m) sampai kedalaman 56 m. Rajungan hidup di daerah estuary kemudian berimigrasi
ke perairan yang bersalinitas tinggi untuk menetaskan telurnya, dan setelah
mencapai rajungan mudah akan kembali ke estruasi
- Penyebaran
Portunus
pelagicus dikenalnya sebagai bunga kepiting, kepiting biru, rajungan, atau
kepiting pasir adalah kepiting yang sering ditemukan dimuara intertidal dari
Hindia dan Samudera Pasifik (Pantai Asia) dan Timur Tengah sampai di pantai
Laut Mediterania. Rajungan-rajungan terbesar juga sering ditemukan di bagan
Timur Afrika, Asia Tenggara, Asia Timur, Australia, dan Selandia Baru.
Jenis
Rajungan atau kepiting terang bulan ( Portunus pelagicus ) banyak terdapat pada
lautan Indo-Pasifik dan India. Rajungan juga terdapat di daerah Gilimanuk (pantai utara bali),
Penganbengan (pantai selatan bali), muncar (pantai selatan jawa timur),
Pasuruan ( pantai utara jawa timur), Lampung, Medan, dan Kalimantan Barat .
Rajungan
memiliki potensi yang sangant besar bagi kehidupan manusia. Diantaranya adalah
rajungan dapat dikonsumsi dengan berbagai olahan yang menarik, ataupun dapat
dibudidayakan. Lebih jelasnya, keunggulan nilai gizi rajungan adalah :
- Kandungan proteinnya yang cukup besar, yaitu sekitar 16-17g/100 g daging. Angka tersebut menunjukan bahwa rajungan dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein yang cukup baik dan sangat potensial.
- Kandungan lemak rajungan yang sangat rendah. Ini merupakan kabar baik bagi konsumen yang membatasi konsumsi pangan berlemak tinggi. Hal ini berarti kandungan lemak jenuh yang rendah pula, demikian sama halnya dengan kandungan koletrol
4. MANFAAT
- Kandungan kitin dan kitosan pada rajungan memiliki fungsi untuk proses penjernihan air.
- Kitin dan kitosan dalam rajungan digunakan sebagi bahan pembuat kapsul, karena mampu terdragasi secara berangsur dan melepaskan obat dengan dosis terkontrol.
- Kitosan juga digunakan sebagai bahan pembuat ginjal buatan
- Air bekas rajungan cukup potensial untuk dijadikan bahan dasar pembuatan kerupuk kepiting
Pemanfaatan
kitosan dari lembah cangkang rajungan sebagai adsorben pada adsorpsi logam
nikel dari lembah kitalis. Nikel adalah logam berharga, aplikasinya antara lain
adalah untuk membuat katalis NiO/ Al203 yang digunakan dalam proses pengolahan
minyak bumi. Katalis yang sudah tidak terpakai akan menjadi masalah terhadap
lingkungan. Perlu diambil logam nikel dengan cara mengadsorpsi (penyerapan ) dari larutan nikel, yang
terlebih dahulu dileaching dari katalis. Penyeraban logam nikel dari larutan
dipengaruhi oleh beberapa parameter, diantaranya adalah konentrasi logam nikel
dalam larutan, perbandingan berat kitosan terhadap volume larutan, pH larutan
dan waktu kotak penyerapan.
Selain
itu, panelis terhadap bubuk flavor dari ekstrak cangkang rajungan ( portunus sp
), dengan memperlakukan waktu ekstrasi dalam mengeveluasi kandungan gizi bubuk
falvor dari ekstrasi terpilih perlakuan yang diberikan pada penelitian terhadap
tahap pertama adalah control ( tanpa ekstrak cangkang rajungan ). Setelah
homogeny pasta flavor tersebut dikeringkan dengan drum dryer sehingga menjadi
bubuk flavor yang kemudian dikemas dengan plastic politilen
Langganan:
Postingan (Atom)